Selamat Jalan Kang Darto

Pelatih, Rekan, Teman, Sahabat, Guru, Ayah

oleh Mohamad Ashari

Kang Darto, Kang Ato, Pa Ato adalah nama yang sering digunakan untuk memanggil sosok Kang Sudarto, dulu di tahun 1994 tentunya semua anggota LSBD Hikmatul Iman mengenal nama Sudarto sebagai salah satu nama jajaran Pelatih Utama / PU (dulu belum ada wasdal) yang wajib dihafalkan saat menjelang Ujian Kenaikan Tingkat karena pada jaman itu pasti akan ada satu soal mengenai nama PU maupun Pelatih.

Dalam proses perjalanan saya, Kang Ato memiliki peran yang penting, karena saya berkesempatan berlatih langsung dibawah bimbingannya dan kemudian lebih intens lagi saat saya menjadi pengurus ranting (1995) dan pengurus pusat (2000 – 2007). Bagi saya Kang ato merupakan teladan mengenai totalitas, komitmen, kejujuran, kesederhanaan, dan setia kawan. Beliau tidak pernah banyak berbicara namun sangat banyak mencontohkan dengan tindakan, saya rasa dan saya pikir semua orang akan nyaman berada berdekatan dengan Kang Ato yang sangat murah senyum.. sepanjang saya mengenal beliau hanya satu kali saja pernah melihat Kang Ato “marah” selebihnya saya hanya mengingat senyum yang selalu menghiasi wajah beliau.

1994 sd 2020, 26 tahun yang lalu  saya yang sebagai  anak kelas 1 SMA mengingat Kang Ato sebagai pelatih yang “tega” dalam melatih. Posisi favorit yang saya sangat ingat adalah penyeimbang air 2, dimana kita berbaring kemudian mengangkat kaki dan tangan dengan fokus pada penguatan otot perut, dulu kami sebut posisi ini “sikap perahu”. Kang Ato lalu kan menginjak perut kami, dan benar benar berdiri menumpukan semua berat badannya, kadang 10 detik, kalau iseng malah lebih lama. Tentunya ia juga menginspirasi pelatih lain untuk melakukan hal yang sama “tega” dan serulah latihan kami di koridor SMAN 3 Bandung. Lantai latihan basah dengan peluh.. tegel jadul mengilat karena keringat. Kang Ato berkata : lebih baik keras di latihan dari pada ketika di jalanan kalian tidak siap.

Yang menarik seberapapun berat latihan, dulu kami sangat menikmatinya sama sekali tidak merasa dibully. Mungkin salah satunya karena setiap setelah latihan para pelatih mengakhirinya dengan diskusi santai yang penuh keakraban.

Kang Ato punya lengan yang besar, ototnya berisi jauh banget dibandingkan otot kami yang cungkring. Dengan lengan besarnya, di saat Demo LSBD HI beliau spesialis memukulkan kaso ke pungung, betis, dan punggung. Kami sebagai yang dilatih pasrah dan yakin 100% akan baik baik saja kalau Kang Ato yang memukulkan. Kang Ato kalau memukulkan martil untuk materi demo tegel di perut awalannya ngga kira kita, martil 5 kg diayun benar benar dari atas, hanya saat tegel di kepala saja martil diayun lebih lembut dan dipegang dekat agar lebih akan. Inovasi pematahan kikir “sandwitch” yaitu lengan ditaruh diatas kikir pada penopang lalu tangan di pukul menggunakan martil juga salah satu inovasi Kang Ato. Demo kala itu thrilling, penonton dijamin menahan nafas, dan kami sangat menikmati saat penonton berteriak histeris dan nafas tercekat.

Bertahun tahun kemudian saya memulai kiprah sebagai Asisten Pelatih di  Ranting SMA 3, menjadi penerus pertama Kang Ato untuk urusan memukulkan kaso ke kepala. Saya sangat ingat, saat itu Kang Ato hadir di latihan persiapan demo dan menugaskan saya untuk mengambil posisi “kaso hitter”, mengajarkan trik memilih kaso dengan cara “dicubit” untuk menentukan  kaso mana yang bisa patah dengan mudah. Dibalik demo yang kelihatan berbahaya Kang Ato sangat tegas tentang safety, jangan pernah eksekusi aksi jika tidak yakin aman.

Sebagai aspel saya juga merasakan peran besar Kang Ato saat UKT, terutama dalam pengukuhan. Kang ato adalah salah satu ahli pembuat jalur pegukuhan. Harus sulit, harus berkesan, dan harus aman. Dalam kepelatihan Kang Ato tidak pernah terlalu “rewel” masalah jurus apakah angin 7 kaki belakangnya menapak atau jinjit, atau jurus putra yang harus selesai dibawah 10 detik.. untuk masalah jurus Kang Ato sudah mempercayakan pada Kang Mpu.  Tapi kalau saat latihan kuda kudamu kurang rendah, atau saat plank penyeimbang air 3 badanmu melengkung… dipastikan akan ada tendangan dan pukulan lembut untuk mengingatkan, spesial dari Kang Ato.

Kala  itu untuk menjadi aspel kami para dasar 4 baru harus melalui dua kali pengukuhan. Pengukuhan  pertama untuk mendapatkan hak mengenakan baju takwa, dan pengukuhan kedua untuk mendapatkan hak mengenakan sabuk. Saat penyabukan yang sudah pasti sangat sangat berkesan karena semua jajaran P dan PU memberikan “sentuhan mesra” dan kami mempersiapkan penyaluran keseluruh tubuh berminggu – minggu sebelumnya terutama untuk  mengantisipasi tendangan Kang Wowon yang “nyereud” (menyengat), pukulan Kang Lumba yang dramatis, dan tendangan iseng Kang Iwing yang pakai sepatu cheko 🙂 kearah ulu hati.

Kang Ato pada saat itu berdiri di depan saya dan berkata “jaga amanah”, dan “PLAKK” satu tamparan dari telapak tangan lebar Kang Ato mendarat keras di pipi kiri kemudian dilanjut dengan rangkulan. Tidak sakit, sama sekali tidak sakit, yang terasa adalah kata – kata “jaga amanah” masuk dalam sekali. Itulah terakhir kali Kang Ato memberikan pukulan pada saya.

Sebagai pengurus pusat, peran Kang Ato dibalik layar sebenarnya sangat sangat besar terutama dalam menghidupkan divisi dana usaha. Sumber dana utama dari PP kalau itu adalah dana usaha dan Kang Ato adalah suplier dari baju takwa, sabuk, dan celana. Bagi Kang Ato, baju takwa dan sabuk bukan produk fashion, ia paham betul baju ini adalah simbol apresiasi yang punya nilai tinggi. Oleh karenanya harus dibuat dari bahan terbaik secara sangat teliti termasuk ada pola rahasia pada desainnya. Jumlah jahitan di lengan baju takwa adalah satu kode rahasia itu, sabuk yang dijahit menggunakan benang nylon bening adalah kode lainnya. Jadi kami saat itu tahu betul mana yang produksi dari pusat dan mana yang dibuat bukan oleh pusat.

Disaat PP kesulitan keuangan, Kang Ato memberikan kepercayaan penuh pada saya untuk ambil barang dulu dan bayar setelah terjual tanpa limit, semasa menjadi pengurus pusat tiga atribut tadi dipercayakan satu pintu via PP, Kang Ato tidak mengizinkan ranting / cabang mengambil langsung. Peran besar Kang Ato itulah yang membuat saya sebagai ketua PP saat itu memutuskan dengan tegas bahwa untuk celana, sabuk, dan baju takwa hanya diproduksi di satu vendor yaitu Kang Ato. Keputusan yang cukup mengundang sindiran saat itu karena banyak vendor yang ingin turut memproduksi celana latihan.

Saya sering kali bolak balik ke Jl Industri untuk mengambiil barang, sekali pernah kena tilang dan “damai” dengan polisi di pos polisi depan hotel hilton saat ini. Setiap mengambil barang ke Kang Ato di Jl Industri kisaran  stasiun Bandung kita akan melewati sebuah mesjid dengan nama mesjid “Hikmatul Iman

Kenapa dinamakan Hikmatul Iman ? Tentunya karena andil dari Kang Ato di lingkungan dan kecintaan Kang Ato pada LSBD HI.

Selepas masa bakti sebagai pengurus dan manjalani hari hari tenang sebagai anggota biasa interaksi kami tidak se-intensif sebelumnya, sebatas bertemu di UKT dan kadang pengukuhan. Sebatas bercurhat tentang kepengurusan pusat yang berjalan dan betapa Kang Ato mengapresiasi kepengurusan Dinasti Ashari. Bahasan yang renyah penuh ghibah 🙂

Di 2014 Kang Ato merupakan salah satu pelatih yang dilibatkan secara aktif di kelas kesehatan dengan brand “Vallgara” yang didirikan oleh MTHI yang saat itu masih merupakan kependekan dari Manajemen Terapi Hikmatul Iman. Beliau membagikan banyak kebijaksanaan dan keilmuan dan yang pasti menjadi sosok yang dekat dan menaungi para anggota yang saat itu rata – rata pasien.

Bersepeda ke Jl Cianjur untuk melatih dan ke mengunjungi para pasiennya merupakan ciri khas Kang Ato yang selalu siap menerapi ke rumah pasien dimanapun. Kang Imat menceritakan bagaimana Kang Ato menerapi almarhum Ibunya, bersepeda dari Jl Industri ke Arcamanik dan menolak amplop yang diberikan. Ciri lainnya adalah selalu hadir saat diundang, terutama saat botram 🙂

Kang Ato juga menjadi orang pertama yang menyambut tawaran membuat titik terapi di panti Sosial Tresna Werha Budi Pertiwi di Jl Sancang, tetap menerapi saat terjadi “pergolakan politik”, dan membuktikan tetap dan terus menerapi hingga saat – saat terakhir.

Saat kasus pembubaran Hikmatul Iman juga merupakan chapter sendiri yang dramatis, saya berkesempatan mendengar langsung perspektif Kang Ato. Itulah mengapa MTHI (Vallgara) menjadi pihak pertama yang berekonsialiasi dan menerima dengan tangan terbuka kehadiran Kang Ato walau menuai kritikan. Ah.. biarlah mereka kan hanya mengetahui kulitnya saja…

Beliau juga membidani lahirnya “Inner Power”  yaitu kelompok latihan olah nafas dibawah Yayasan Ummara bersama dengan Kang Abdul Kholik. Kunjungi facebook mereka dan kita akan dapat merasakan nuansa kekeluargaan dan persahabatan yang sangat kental.

Pertemuan terakhir langsung saya dengan Kang Ato adalah saat MTHI mengadakan latihan di Tahura Ir. H. Djuanda

Kepergian Kang Ato membuat saya berpikir, jika saya meninggal nanti apakah yang akan diingat orang akan sosok Ashari ? Akankah saya diingat sebagai orang baik seperti Kang Ato ?

Kang Ato, terima kasih atas semua pelajaran dan kebijaksanaan yang telah Akang sampaikan, insyaAllah saya akan terus berusaha menjaga amanah, semoga bisa terus konsisten hingga akhir seperti yang akang contohkan.

Kang, Akang adalah  teladan mengenai totalitas, komitmen, kejujuran, kesederhanaan, dan setia kawan.  Pelatih, Rekan, Teman, Sahabat, Guru, Ayah bagi kami.